KONSEP INS KAYUTANAM

Konsep Pendidikan di beberapa negara maju seperti Singapura, Jepang, dan Tiongkok ternyata sangat mirip dengan konsep yang ditawarkan oleh Ki. Hajar Dewantara dan Engku Moehammad Syafei. Konsep-konsep pendidikan di tiga negara tersebut sudah ada di negara kita sejak lebih kurang 80 tahun lalu. Sejarah sudah mencatat tokoh-tokoh pendidikan di Indonesia, perjuangan mereka tidaklah mudah.

Kondisi di negara kita saat ini, sekolah yang baik dan benar masih dapat dihitung dalam hitungan jari. Hal-hal yang sudah ada tersebut menjadi terlupakan bahkan hilang. Yang terjadi saat ini, kita sebagai bangsa Indonesia malah senang berorientasi dengan apa yang berbau ”Barat”, dengan kata lain luar negeri. Bisa jadi, kekaguman kita pada hal-hal yang berbau luar negeri karena budaya kita tidak pernah menghargai hasil karya bangsanya sendiri. Bisa jadi pula, karena kita tidak terlalu peduli sejarah. Kita tidak terlalu dikenalkan dengan ”sejarah” yang sebenarnya.

Bagaimanapun, kita memiliki banyak tokoh pendidikan yang hebat dalam konsep pendidikan dalam membangun bangsa Indonesia. Sebagai contoh, Engku Moehammad Syafei yang hidup pada masa penjajahan kolonial Belanda, ia mendirikan INS Kayu Tanam. Tokoh pendidikan ini berkeyakinan konsep yang ada di INS Kayu Tanam akan mendidik siswa berwatak mandiri, berkemauan, dan bekerja keras. Oleh karena itu konsep ini perlu terus dilestarikan dalam penyelenggaraan pendidikan di negara kita saat ini.

A. Dasar dan Nilai Filosofis INS Kayu tanam

· NASIONALISME, jati diri bangsa-jati diri masing-masing individu (karakter bangsa dan karakter diri)- membangun kembali

· PATRIOTISME

· IDEALISME

· WIRAUSAHA-ENTERPRENEUR-MANDIRI

· MASYARAKAT-KOMUNAL

· 3H (HEAD -CIPTA, HEART -RASA, HAND -KARSA) – MANUSIA SEUTUHNYA. Tiga komponen tersebut merupakan komponen utama dalam sistem pendidikan INS Kayu Tanam, yaitu tenaga ia bisa bekerja, otak ia bisa berpikir, dan jiwa ia bisa merasa.

B. Tujuan INS Kayu Tanam

agar peserta didik mampu

(1) menumbuhkembangkan budiperkerti dan akhlak mulia (sesuai dengan ajaran agama, etika dan moral);

(2) menumbuhkembangkan kemerdekaan berpikir (aktif-kreatif);

(3) menumbuhkembangkan pengetahuan, bakat/talenta dan potensi diri sesuai dengan kebutuhan masyarakat; menumbuhkembangkan etos/unjuk kerja yang tinggi;

(5) menanamkan percaya diri, kreativitas, kemandirian, dan kewirausahaan (entrepreneurship; serta

(6) mewujudkan dalam tindakan nyata semboyan: “cari sendiri dan kerjakan sendiri ”, artinya sekolah harus mampu membiayai dirinya dan tidak mau menerima bantuan yang dapat mengurangi kebebasan untuk mencapai cita-cita.

Di Ruang Pendidikan INS Kayutanam, Moh Sjafei merintis dan menumbuh-kembangkan kemandirian, kereativitas dan jiwa entrepereneurship/wirausaha, yaitu yang sejalan dengan life skills dari kurikulum yang berbasis kompetensi (KBK).

1. Kemandirian

Mampu berdiri sendiri tanpa tergantung kepada orang lain. Kemandirian adalah memiliki jati diri yang kuat, gigih, ulet, rasa percaya diri yang tinggi, mampu tampil beda, tetapi rendah hati. Kita (orang Indonesia) harus mampu hidup seperti “ayam kampung ”, dan bukan halnya seperti selama ini, di mana kita dibesarkan dan dididik seperti “ayam ras ”. Dengan demikian, agar mampu eksis menghadapi tantangan global haruslah didukung oleh individu-individu yang mampu menjadi “jago ” yang tidak hanya “jago kandang ”, tetapi mampu menjadi tenaga ahli, tidak hanya TKI-sebagai tenaga pembantu rumah tangga dan buruh kasar ( lebih satu juta orang) di Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, Korea, Saudi Arabia, Abu Dabi, dsb. dan sekitanya, dll. Melihat berbagai kasus penganiayaan, pelecehan serta tindakan semena-mena dari majikan menjadi TKI di luar negari sebagai tenaga pembantu dan buruh kasar, “martabat dan harga diri bangsa Indonesia betul-betul diuji dan dipertaruhkan ”. Kadang-kadang memang tidak ada pilihan kerja lain, dari pada makan nasi tiwul seperti di berbagai tempat di P Jawa, makan singkong rebus di Indramayu, kawin kontrak di daerah Bogor, puncak dan sekitarnya, dll.

2. Kreativitas

Kreativitas adalah menghasilkan produk baru yang penting atau meliputin semua usaha produktif dari seseorang. Ada sejumlah karakteristik kreatifitas, di antaranya (1) hasrat ingin tahu, (2) cenderung/senang untuk menemukan sesuatu, (3) berkemampuan mandiri dan independent, (4) memilih melakukan tugas yang sulit dan menantang, (5) mampu memecahkan masalah dengan baik dan yakin dengan putusan yang telah diambil, (6) senang/bergairah memecahkan masalah, (7) pemikir yang fleksibel, (8) bekerja dengan dedikasi yang tinggi dengan waktu yang lebih panjang terhadap masalah yang tidak terpecahkan, (9) memberikan respons cepat dan di luar dugaan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, (10) memperlihatkan kemampuan untuk mensintesis dan memahami implementasinya, dan (11) berkemampuan untuk membaca dengan baik.

3. Wirausaha

Thomas Paine (1776); Entrepreneur’s Credo:

“I do not to choose to be a common man, it is my right to be uncommon… if I can. I seek opportunity… not security. I do not wish to be a kept citizen, humbled and dulled by having the state look after me. I refuse to barter incentive for a dole; I prefer the challenges of life the guaranteed existence; the thrill of fulfillment to the state calm of Utopia. I will not trade freedom for beneficence nor my dignity for a handout. I will never cower before any master nor bend to any thereat. It is any heritage to stand erect, proud and unafraid; to think and act for myself, to help, I have done. All this what it means to be Entrepreneur”

C. Tingkat pendidikan, mata pelajaran dan nilai-nilai yang dikembangkan di RP Kayutanam

a. Tingkat Pendidikan di INS Kayutanam atau yang lebih dikenal dengan subtan Ruang Pendidikan Kayutanam, terdiri dari 4 tingkatan ruang:

· Ruang rendah sekolah dasar (7 tahun)

· Ruang antara (1 tahun)

Meruapakan ruang transisi atau peralihan yang harus ditempuh siwa yang lulus dari ruang rendah sekolah dasar sebelum memulai pendidikannya di ruang dewasa.

· Ruang dewasa (4 tahun)

· Ruang masyarakat (1 tahun)

Bagi tamatan dari ruang dewasa yang hendak menjadi guru diwajikan belajar ilmu keguruan dan praktik mengajar.

b. Mata Pelajaran yang ada di INS Kayutanam

(Bahasa pengantar yang digunakan adalah Bahasa Indonesia (terkadang engguakan bahasa ibu)

Khusus untuk ruang dewasa ditambah pelajaran Bahasa Inggris.

Bahasa Belanda hanya dipelajari agar dapat menerjemahkan buku-buku pelajaran yang menggunakan bahasa Belanda).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*
= 3 + 8