KREATIVITAS TEKNIK PROBING

0leh : Dra. Sri Murtini

Proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ) menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan melalui inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah. Peranan guru dalam memfasilitasi siswa untuk mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar dilandasi oleh pemberdayaan siswa untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah dan membangun pengetahuannya sendiri.

Jika kita tinjau aktivitas di dalam kelas, yang paling lazim kita temukan adalah aktivitas verbal yaitu berbicara. Pada umumnya guru mendominasi aktivitas verbal misalnya berceramah, menjelaskan petunjuk kerja, memimpin diskusi, memuji bahkan masih ada yang mencela siswa, mengajukan pertanyaan. Khusus dalam hal mengajukan pertanyaan, tidak ada guru yang tidak pernah tidak bertanya kepada siswanya selama melaksanakan pembelajaran, namun efektifkah pertanyaan guru tersebut?. Dalam pembelajaran IPA, bertanya dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa sendiri kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran berbasis inkuiri yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.

Bertanya merupakan ciri dalam pembelajaran IPA, menemukan merupakan kegiatan inti dari pembelajaran IPA. Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa hendaknya bukan hasil mengigat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil menemukan dan menggeneralisasi sendiri. Dalam pembelajaran IPA guru semestinya merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan untuk materi yang dipelajari. Siklus inkuiri hendaknya merupakan langkah yang diterapkan dalam pembelajaran IPA, meliputi :

1. Observasi 4. Mengumpulkan data

2. Bertanya 5. Menyimpulkan

3. Mengajukan hipotesis

Penerapan siklus inkuiri tersebut penting mengingat bahwa belajar penemuan memiliki berbagai kelebihan yaitu :

1. Pengetahuan yang diperoleh melalui belajar penemuan dapat bertahan lama dalam ingatan ( mudah diingat) jika dibandingkan dengan pengetahuan yang diperoleh dengan cara lain.

2. Belajar penemuan dapat meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan berfikir, karena mereka harus menganalisis dan memanipulasi informasi untuk memecahkan permasalahan.

3. Belajar penemuan dapat membangkitkan keingintahuan siswa, memotivasi siswa untu bekerja terus sampai siswa menemukan jawabannya.

Untuk mengefektifkan pertanyaan guru dalam pembelajaran IPA dapat dipilih suatu alternatif yaitu penggunaan teknik probing /beberapa pertanyaan berseri yang terprogram, saling berhubungan dan berkesinambungan agar konpetensi siswa dapat tercapai..

Pengertian probing dalam pembelajaran di kelas didefinisikan sebagai suatu teknik membimbing dengan mengajukan satu seri pertanyaan pada seorang siswa (Dahar, 1996: 9). Teknik probing adalah suatu teknik dalam pembelajaran dengan cara mengajukan satu seri pertanyaan untuk membimbing pebelajar /siswa menggunakan pengetahuan yang telah ada pada dirinya guna memahami gejala atau keadaan yang sedang diamati sehingga terbentuk pengetahuan baru ( Wijaya, 1999: 7 ). Teknik probing diawali dengan menghadapkan siswa pada situasi baru yang mengandung teka-teki atau benda-benda nyata. Situasi baru itu membuat siswa mengalami pertentangan dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya sehingga memberikan peluang kepada siswa untuk mengadakan asimilasi, disinilah probing (pembimingan menggunakan satu seri pertanyaan) mulai diperlukan.

Untuk dapat menggunakan teknik probing dalam pembelajaran, seorang guru IPA hendaknya sudah berbekal ketrampilan bertanya yang merupakan salah satu dari ketrampilan proses sains. Guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran khususnya dalam pembelajaran mata pelajaran IPA, sejak merancang pembelajaran mulai dari pengembangan silabus maupun pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran tentunya sudah merencanakan pengalaman belajar apa yang akan diperoleh siswa dalam mencapai kompetensi dasar. Sejumlah pertanyaan diperlukan untuk membimbing siswa dengan teknik probing meliputi pertanyaan tingkat rendah sampai tinggkat tinggi, berkaitan dengan kegiatan fisik maupun kegiatan mental berfikir untuk membangun pengetahuannya. Contoh aktivitas fisik misalnya melakukan pengamatan, percobaan, mengidentifikasi ciri-ciri makhluk hidup, memprediksi; sedangkan contoh aktivitas berfikir misalnya asimilasi, akomodasi, membangun pengetahuan baru.

Untuk dapat memilih pertanyaan yang diperlukan, guru perlu mengetahuhi jenis-jenis pertanyaan karena setiap jenis pertanyaan mempunyai kaitan dengan proses berfikir yang terjadi pada siswa sebagaimana pada tabel berikut.

No

Jenis-jenis pertanyaan

Kemampuan yang berkembang

Jenis kemampuan berfikir

1

Pengetahuan

Mengulang informasi

Mengingat

2

Pemahaman

Memahami

Konvergen/memusat

3

Penerapan, analisis, sintesis

Menggunakan informasi

Divergen/menyebar

4

Evaluasi

Mengambil keputusan

Evaluatif

Sebagai gambaran lebih lanjut mengenai jenis-jenis pertanyaan, berikut ini adalah jenis pertanyaan berdasarkan taksonomi kognitigf dari Bloom.

1. Pengetahuan

Menanyakan informasi yang pernah dipelajari, dapat berupa fakta, konsep, prinsip atau prosedur.

2. Pemahaman

Pertanyaan yang meminta siswa untuk merumuskan kembali suatu gagasan dengan kata-katanya sendiri tanpa mengubah arti.

Pertanyaan pemahaman dibedakan menjadi 2 yaitu Translasi dan Interpretasi.

2.1 Translasi : pertanyaan yang meminta siswa untuk merumuskan kembali suatu gagasan dengan kata-katanya sendiri tanpa mengubah arti.

2.2 Interpretasi : pertanyaan yang meminta siswa untuk mengidentifikasi hubungan, membuat perbandingan berbagai gagasan/informasi atau benda, atau memperkirakan kaitannya dengan suatu keadaan.

3. Penerapan/aplikasi

Pertanyaan yang meminta siswa untuk berfikir bagaimana menggunakan gagasan/informasi untuk memecahkan masalah baru.

4. Analisis

Pertanyaan yang meminta siswa untuk mengidentifikasi bagian-bagian dari suatu masalah/gagasan/penyelesaian, bagaimana bagian-bagian itu saling berkaitan dan mengidentifikasi apa yang mempersatukannya.

5. Sintesis

Pertanyaan merangsang siswa untuk mempertimbangkan variasi, gagasan atau ide-ide baru sedemikian rupa sehingga menjadi hal yang baru baginya.

6. Evaluasi

Pertanyaan yang meminta siswa untuk membuat pilihan dan memberikan alasan-alasan

Pertanyaan yang digunakan untuk membimbing siswa dalam pembelajaran dengan menggunakan teknik probing, dipilih mulai kategori pertanyaan yang memerlukan proses berbikir tingkat rendah sampai tinggkat tinggi. Aktivitas siswa yang diharapkan terjadi dengan penggunaan teknik probing oleh guru adalah aktivitas yang dapat melatih ketrampilan proses sains, contoh :

No.

Ketrampilan Proses Sains

Pertanyaan.

1.

2

3

4

5

6

7

8

Mengamati

Mengukur menggunakan nomor dan waktu.

Mengkomunikasikan

Mengklasifikasi berdasarkan persamaan dan perbedaan

Membandingkan

Memprediksi

Menyusun hipotesis

Merancang eksperimen

Apa yang kamu amati ketika Ikan terlempar dari toples yang berisi air?.

Berapakah temperatur akhir?, berapa lama diperlukan waktu untuk mencapai temperatur akhir itu?.

Apa yang terjadi dengan jumlah gerakan operkulum ikan emas bila temperatur diturunkan?.

Manakah dari hewan-hewan ini yang termasuk serangga?

Manakah tanaman yang lebih kokoh, yang tumbuh di tempat terang atau yang tumbuh di tempat gelap?.

Tanaman mana yang kamu perkirakan akan tumbuh lebih baik?.

Kebanyakan uap air dalam awan berasal dari laut, mengapa air hujan tidak hanya jatuh di laut?.

Apakah cahaya mempengaruhi kecepatan pertumbuhan kecambah kacang hijau?.

Bagaimana mengkondisikan teknik probing?.

Ada 7 ( tujuh tahap ) aktivitas guru dalam mengkondisikan teknik probing yaitu:

1. Menghadapkan siswa pada situasi baru, misalnya dengan menunjukkan gambar, alat pembelajaran, objek, gejala yang dapat memunculkan teka-teki.

2. Memberi waktu tunggu beberapa saat (3-5 detik) atau sesuai keperluan agar siswa melakukan pengamatan.

3. Mengajukan pertanyaan sesuai indikator atau kompetensi yang ingin dicapai siswa.

4. Memberi waktu tunggu beberapa saat (2-4 detik) untuk memberi kan kesempatan siswa merumuskan jawabannya.

5. Meminta seorang siswa untuk menjawab pertanyaan yang telah diajukan.

6. Jika jawaban yang diberikan siswa benar atau relevan dilanjutkan dengan siswa lain, untuk meyakinkan bahwa semua siswa terlibat dalam kegiatan yang sedang berlangsung serta memberi pujian atas jawaban benar. Jika jawaban keliru atau tidak relevan, diajukan pertanyaan susulanyang berhubungan dengan respon pertama, dimulai dari pertanyaan yang bersifat obeservasional kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan yang menuntut siswa berpikir lebih tinggi menuju pertanyaan indikator ketercapaian kompetensi dasar sampai siswa dpt menjawab pertanyaan yang diajukan tadi.

7. Pertanyaan yang diajukan pada tahap 6 (enam) ini sebaiknya diajukan/diinteraksikan juga pada siswa lain agar seluruh siswa terlibat dalam kegiatan probing.

8. Mengajukan pertanyaan akhir pada siswa lain untuk lebih menegaskan bahwa kompetensi dasar yang dituju sudah tercapai.

Penentuan materi yang akan disajikan dengan teknik probing dapat dimulai pada waktu guru menyusun silabus, pada waktu menganalisins standar kompetensi maupun kompetensi dasar. Selanjutnya rancangan seri pertanyaannya disiapkan pada rencana pelaksanaan pembelajaran berupa pertanyaan –pertanyaan pokok. Pertanyaan tambahan akan muncul sesuai dengan jawaban yang diberikan siswa. Ilustrasi penggunaan teknik probing untuk pembelajaran Biologi di SMA dapat disajikan sebagai berikut :

Mata Pelajaran : Biologi

Kelas/Semester : XI, Semester 1

Standar Kompetensi : Memahami keterkaitan antara struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dan hewan, serta penerapannya dalam konteks Salingtemas.

Kompetensi Dasar : Mengidentifikasi struktur jaringan tumbuhan dan mengaitkannya dengan fungsinya, menjelaskan sifat totipotensi sebagai dasar kultur jaringan.

Indikator pencapaian kompe

tensi :Menjelaskan kaitan antara struktur dan fungsi pada daun.

( hanya mengambil satu indikator untuk dibuat skenario kegiatan inti pembelajaran menggunakan teknik probing).

Kegiatan pembelajaran :

(Kegiatan inti )

§ Guru memperlihatkan 2 (dua) lembar daun, misal daun mangga. Siswa diminta untuk mengamati kemudian membandingkan permukaan atas dengan permukaan bawah.

§ Guru memberikan beberapa/satu seri pertanyaan kepada siswa yang pada akhirnya siswa dapat menyimpulkan bahwa ada kaitan antara struktur dengan fungsi pada daun. Sebagai illustrasi seri pertanyaan dapat disajikan alternatif sebagai berikut :

  1. Dari hasil pengamatan, bagaimana perbandingan warna permukaan atas dan permukaan bawah pada daun mangga tersebut?.
  2. Mengapa permukaan atas daun lebih hijau daripada permukaan bawah?, lakukan kegiatan secara berkelompok untuk mengamati anatomi daun ( kegiatan bervariasi sesuai kondisi sekolah, sebaiknya praktikum, kalau tidak memungkinkan dapat digunakan tayangan OHP, Charta), untuk mencari data mengenai keberadaan khlorofil serta membandingkan antara mesofil I dengan mesofil II.( selama kegiatan guru dapat melakukan intervensi denganmemberikan beberapa pertanyaan bimbingan).
  3. Perbedaan apa sajakah yang dapat ditemui dengan membandingkan mesofil I dengan mesofil II?.
  4. Dari hasil pengamatan, perbedaan mana yang dapat menjelaskan bahwa permukaan atas daun lebih hijau daripada permukaan bawah ?.
  5. Apa fungsi klorofil?.
  6. Dari kegiatan hasil pengamatan tentang anatomi daun, bagaimanakah kaitan antara struktur dan fungsi pada daun ?.

Penggunaan teknik probing oleh guru dalam pembelajaran IPA sangat memungkinkan, bahkan dalam pembelajaran mata pelajaran yang lain. Hal ini mengingat bahwa semua guru tentunya telah menguasai jenis-jenis pertanyaan, ketrampilan bertanya yang meliputi penggunaaan pertanyaan/ teknik bertanya, tujuan bertanya maupun menanggapi jawaban siswa. Disinilah ruang gerak guru dalam mengembangkan kreativitasnya, untuk memvariasikan metode pembelajaran. Dengan memvariasikan metode pembelajaran diharapkan berbagai gaya belajar siswa dapat terlayani, suasana pembelajaran dapat tampil beda sehingga siswa dapat belajar dalam kemasan joyful learning yang tentunya dapat meningkatkan efektivitas pembelajarannya.Peningkatan efektifitas pembelajaran memunculkan peningkatan hasil belajar yang dapat memberikan motivasi untuk berprestasi baik pada guru maupun siswa.

Seandainya semua guru mampu dan mau mengembangkan kreativitasnya dalam pembelajaran, khususnya memvariasikan kemasan skenario pembelajarannya dengan memilih metode termasuk didalamnya teknik-teknik yang sesuai dengan materi pembelajaran maupun indikator pencapaian kompetensinya, kemungkinan besar proses pembelajaran akan efektif. Dengan demikian besar harapan bahwa proses pembelajaran sebagaimana yang tertera dalam standar proses ( Permendiknas R.I. No.41 Tahun 2007, Tentang Strandar Proses Untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah), khususnya pada kegiatan inti dapat dicapai. Adapun kegiatan inti yang dimaksud adalah: Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pem­belajaran untuk mencapai KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, me­motivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativi­tas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuai­kan dengan karakteristik peserta didik dan mata pela­jaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.

One thought on “KREATIVITAS TEKNIK PROBING

  1. Azwar Tamim

    Tulisan yang menarik Bu.

    Saya pernah sedikit membaca tentang Taksonomi Kognitif Bloom di dalam sebuah jurnal mengenai belajar-mengajar di pendidikan tinggi. Para penulisnya mengidentifikasi sebuah kerangka 5-tahap berpikir kritis untuk berbagai bidang pengetahuan. Teknik probing ini sepertinya termasuk ke dalam tahap kedua di dalam kerangka tersebut.

    Terima kasih Bu, sepertinya tahap kedua dalam kerangka tersebut menjadi lebih jelas setelah membaca artikel Ibu.

    Bila ingin tahu lebih jauh mengenai artikel tersebut, silahkan melihat:

    International Journal of Teaching and Learning in Higher Education
    2006, Volume 17, Number 2, 160-166
    http://www.isetl.org/ijtlhe/
    ISSN 1812-9129

    Critical Thinking Framework For Any Discipline

    Robert Duron
    Husson College

    Barbara Limbach and Wendy Waugh
    Chadron State College

    Semoga bermanfaat, mudah-mudahan menambah bantuan untuk meniti perbaikan pendidikan negeri kita. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*
= 3 + 5