| |
Mencari Software Gratis? |
Artikel Terbaru |
|
|
 |
|
MENCIPTAKAN PENDIDIKAN YANG EFEKTIF Minggu, 16 Desember 07 - oleh : marjohan
MENCIPTAKAN PENDIDIKAN EFEKTIF
Oleh: Marjohan.
marjohanusman@yahoo.com
Kata efektif adalah sebuah kata yang mudah untuk diucapkan namun butuh usaha maksimum dan kontinyu untuk memperolehnya. Kata ini dapat bergabung dengan kata pendidikan menjadi “pendidikan yang efektif” dan selanjutnya kita dapat bertanya sudah efektifkah pendidikan kita atau hanya sekedar asal-asalan saja?
Dari tiga bentuk pendidikan yaitu pendidikan formal, informal dan non formal, maka pendidikan formal paling banyak disorot mulai dari mutu sampai dengan keefektifannya. Pendidikan formal yang mencakupi kurikulum, sarana, dan prasarananya dan lingkungan masyarakat yang ikut mempengaruhinya.
Apakah suatu pendidikan yang diselenggarakan sejak dari bangku SD sampai perguruan tinggi atau paling kurang sampai untuk tingkat SLTA sudah efektif atau belum. Keefektifan sebuah sekolah sangat dipengaruhi oleh latar belakang rumah tangga tempat asal anak-anak didik dan keadaan masyarakat sekeliling sekolah. Rumah tangga dan masyarakat yang memiliki SDM yang sangat memadai dan kondisi keuangan yang cukup mapan akan membantu terselenggaranya suatu sekolah yang efektif.
Sekolah yang efektif tentu akan menjadi sekolah idola dan akan diserbu oleh banyak calon anak didik setiap awal tahun pelajaran dimulai. Anak yang efektif sangat ditentukan oleh faktor rumah dan faktor sekolah yaitu rumah yang efektif dan sekolah yang efektif pula.
Kualitas seorang anak didik sangat ditentukan dan dipengaruhi oleh budaya dan suasana belajar di rumah dan di sekolah. Beberapa faktor pendukung kualitas anak di rumah adalah seperti tingkat sosial ekonomi dan Sumber Daya Manusia (SDM) orang tua serta pengaruh teman bermain dan hiburan. Sedangkan faktor pendukung di lingkungan sekolah adalah seperti tingkat SDM dan kehangatan pribadi guru, fasilitas penunjang, sarana belajar dan pengaruh budaya dan iklim belajar di sekolah itu sendiri.
Lebih dari separoh waktu kehidupan anak dihabiskan di rumah. Famili dan orang tua mempunyai peranan sangat besar dalam menentukan pribadi anak. Kualitas mereka sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan (SDM) orang tua dalam mendidik dan menumbuhkembangkan konsep belajar dalam keluarga. Kemampuan ekonomi orang tua punya peran dalam menyediakan fasilitas belajar. Ada anak dengan tingkat pendidikan orang tua rendah, biasa berhasil dalam belajar karena orang tua cukup tebal isi kantongnya untuk membiayai saran belajar. Ada lagi sebagian anak yang berasal dari keluarga dengan ekonomi kurang mampu, tetapi juga berhasil dalam belajar, karena orang tuanya sendiri kaya dengan wawasan SDM. Yang sangat beruntung adalah anak yang memiliki orang tua dengan SDM tinggi, kantong tebal dan teman-teman bermain memberikan pengaruh positif dalam belajar.
Pendidikan yang efektif tentu akan didukung oleh komponen-komponen yang juga efektif. Mereka adalah seperti sekolah efektif, kepala sekolah efektif, guru efektif dan murid yang efektif.
Sekolah yang efektif tentu mempunyai standar indikator seperti yang digambarkan oleh Sergio Vanio. Ia mengatakan bahwa kalau sekolah efektif murid-muridnya dinilai setiap tahun oleh pihak yang independen maka skor penilaiannya selalu meningkat. Murid-murid di sekolah itu sangat antusias dalam belajar dan ini tercermin dalam peningkatan prosentase kehadirannya. Guru sangat konsekwen dalam memberikan pekerjaan rumah (PR) dan menilai PR itu dengan konsisten. Sekolah memiliki program dan jadwal ekstrakurikuler di sekolah itu terdapat partisipasi orang tua dan masyarakat untuk peduli terhadap perkembangan dan kemajuan sekolah tersebut.
Sekolah efektif sangat menghargai waktu dan akan memanfaatkannya ibarat memanfaatkan uang. Tentu saja sebagian besar waktu itu digunakan untuk belajar. Guru-guru di sekolah yang efektif mampu melaksanakan proses belajar mengajar yang bebas dari gangguan dan memberikan pekerjaan rumah dengan cara bertanggung jawab. Sekolah ini mulai dan mengakhiri kegiatan belajar betul-betul tepat waktu. Sementara itu dalam sekolah yang tidak efektif, guru-guru cenderung tidak mendukung pemahaman tujuan sekolah.
Sekolah yang efektif tentu berada di belakang pimpinan kepala sekolah yang efektif pula. Seorang kepala sekolah akan menentukan jatuh atau bangunnya kualitas suatu sekolah. Kepala sekolah asal-asalan cenderung untuk menghancurkan budaya dan iklim belajar sekolah. Sedangkan kepala sekolah yang efektif selalu komit dengan misi dan visi yang mengangkat dan melestarikan kualitas sekolahnya.
Salfen Hasri (2004;20) mendeskripsikan tentang kepala sekolah yang efektif, yang antara lain sebagai berikut: punya visi dan merealisasikannya bersama guru dan staf. Ia mempunyai harapan yang tinggi pada prestasi, selalu mengamati kualitas guru dan kualitas anak didik serta mendorong pemanfaatan waktu. Disamping itu seorang kepala sekolah yang efektif selalu memonitor prestasi individu guru, staff, siswa dan sekolah.
Kepala sekolah yang efektif sangat sadar bahwa keberadaan siswa adalah titik pokok dalam dunia pendidikan (di sekolah), maka ia sangat memonitor perkembangan siswa yang tercermin dalam peningkatan kualitas nilai tes yang bersih dari rekayasa dan manipulasi data. Ia melowongkan waktu (punya jadwal) untuk mengamati guru dalam kelas dan senantiasa berdialog tentang problem dan perbaikan pengajaran/kelas.
Kepala sekolah menjadi efektif karena ia mampu menjadi pemimpin yang efektif. Me Clure (dalam Salfen Hasri, 2004) mengatakan bahwa pemimpin yang efektif adalah pemimpin yang mampu dalam berbagi tugas bersama siapa yang memiliki kompetensi untuk pekerjaan khusus.
Seorang pemimpin yang efektif harus mampu untuk melaksanakan “problem solving” dan “decision making”, memiliki bakat memimpin serta mampu untuk bersosial yaitu untuk bekerja sama. Namun dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah sedikit sekali yang menghabiskan waktu untuk urusan kurikulum dan pengajaran.
Marjohan, Guru SMA Negeri 3 (Program Layanan Keunggulan) Batusangkar. Sumatra Barat.
kirim ke teman | versi cetak
Ada 7 komentar tentang artikel ini :
mgaYCXSPrIFx Kamis, 28 Januari 10 - oleh : ljlmhjxadsp | | cV3taQ <a href="http://gnweuyjokwdn.com/">gnweuyjokwdn</a>, [url=http://ilmrrqgwbkwl.com/]ilmrrqgwbkwl[/url], [link=http://rrwdxvrvxbem.com/]rrwdxvrvxbem[/link], http://kcewtazmjfhb.com/ |
QBNVIYryFVJ Selasa, 26 Januari 10 - oleh : hbmqclsgser | | pK23fA <a href="http://mjpaxbqmsnwk.com/">mjpaxbqmsnwk</a>, [url=http://cphqwmltfglw.com/]cphqwmltfglw[/url], [link=http://gaeyuscjebjx.com/]gaeyuscjebjx[/link], http://racerldhyuja.com/ |
LeRninG StyLe Rabu, 23 April 08 - oleh : Eko Subagia | 1. Gaya Belajar
Setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Ada orang yang mudah menyerap dan memproses pelajaran melalui mendengar informasi dari guru. Ada pula orang yang lebih mudah belajar dengan cara membaca dari buku-buku atau melihat bagan-bagan. Selain itu ada orang yang menyerap pelajaran dengan cara mencoba dan mengalami sendiri. Tidak ada gaya belajar yang paling benar dan paling baik. Semua gaya belajar akan sesuai jika pembelajar mengenali gaya belajar yang paling cocok untuk dirinya.
Gaya belajar dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu auditory, visual dan kinesthetic. Pertama adalah gaya belajar auditory. Orang yang memiliki gaya belajar auditory mengandalkan indera pendengarannya saat belajar. Kedua adalah gaya belajar visual. Orang visual mengandalkan pengelihatannya saat belajar. Ketiga adalah kinesthetic. Orang kinesthetic menggunakan indera peraba dan mengerjakan sesuatu agar mengerti pelajaran (Tirtawidjaja, T., 2007). Pada umumnya gaya belajar seseorang adalah gabungan dari ketiga jenis gaya belajar, namun ada satu gaya belajar yang dominan.
Saya merupakan seorang siswa yang memiliki gaya belajar gabungan dari visual dan audio, namun yang paling dominan adalah visual. Sewaktu duduk di bangku SD, saya bukan siswa yang termotivasi untuk belajar. Saya tidak mengerti mengapa belajar itu penting, bahkan saya merasa belajar adalah hal yang membosankan. Saya hampir tidak pernah belajar. Saya merasa bosan belajar di sekolah karena tidak ada hal yang menarik. Kebanyakan guru SD saya hanya menjelaskan pelajaran secara lisan. Mereka hanya berbicara di depan kelas dan siswa harus mendengarkan. Pada saat guru menjelaskan saya diam mendengarkan, namun saya tidak mendapatkan pelajaran apapun. Begitu keluar kelas saya langsung lupa tentang pelajaran di kelas. Ketika ulangan barulah saya membuka buku dan membaca ulang apa yang telah diajarkan oleh guru. Bagi saya proses pembelajaran “mendengarkan” seperti itu sangat tidak menarik dan membosankan.
Saya tertarik untuk belajar apabila guru menulis di papan tulis dan antusias. Saya menyukai guru yang menjelaskan dengan menyertakan contoh-contoh dan tabel-tabel. Saya senang mencatat di buku tulis. Saya lebih memilih untuk mencatat materi daripada harus mendengarkan guru menjelaskan. Semakin banyak catatan yang saya miliki semakin mudah bagi saya untuk mengerti pelajaran. Saya lebih banyak mengerti pelajaran dengan cara membaca. Ketika membaca dan melihat saya dapat mencerna maksud dari materi pelajaran dan dapat membayangkannya, sedangkan kalau hanya dengan mendengarkan saya sulit untuk mencernanya karena informasi yang disampaikan cepat berlalu.
Saya sangat suka membaca. Sejak kecil saya sering meminta orang tua saya untuk membelikan buku cerita. Buku cerita yang saya pilih adalah buku yang bergambar. Saya suka membaca buku cerita. Saya suka mendengarkan cerita dari orang lain, tetapi saya lebih menyukai membaca sendiri. Semakin dewasa, saya semakin suka membaca dengan sunyi.
Saya suka belajar dengan cara meringkas, membuat diagram dan mind mapping karena itu sangat membantu saya dalam memahami pelajaran. Pada saat SMA saya menggambar diagram Perang Dunia II dan menggambar poster Sosiologi dalam ukuran yang besar. Pada saat presentasi pelajaran PSAL Social Studies saya menggambar time line di papan tulis sebagai alat bantu dan itu sangat membantu sekali.
Gaya belajar saya adalah ciri-ciri gaya belajar visual. Ciri-ciri gaya belajar visual secara umum adalah mengingat yang dilihat daripada yang didengar, lebih suka membaca daripada dibacakan, bicara agak cepat, pembaca cepat dan tekun dan tidak mudah terganggu dengan keributan (Putranti, N., 2007). Namun saya tidak sepenuhnya belajar dengan cara visual. Terkadang saya juga termasuk auditory. Ciri-ciri auditory adalah senang membaca dengan keras dan mendengarkan dan menggerakkan bibir ketika membaca (Putranti, N., 2007). Kadang-kadang saya membaca dengan suara keras dan menggerakkan bibir untuk memahami maksud pelajaran. Saya juga senang untuk menceritakan kepada teman tentang apa yang telah saya pelajari. Dengan mengetahui gaya belajar sendiri, akan membantu saya untuk dapat memahami, memproses dan menganalisa pelajaran yang telah saya dapatkan. Saya lebih termotivasi untuk belajar karena mengetahui apa yang akan saya lakukan untuk mendalami pelajaran tertentu (yaitu dengan membaca).
2. Multiple Intelligences
Manusia memiliki kecerdasan yang berbeda-beda, seperti halnya gaya belajar yang berbeda. Setiap orang pasti memiliki kecerdasan. Howard Gardner adalah seorang psikolog yang membuat aturan dari delapan jenis kecerdasan berbeda yang diperlihatkan oleh manusia. Menurut Gardner, sebagai manusia kita semua memiliki sejumlah keterampilan untuk memecahkan masalah. Definisi kecerdasan menurut Gardner yaitu kemampuan untuk memecahkan masalah atau menciptakan suatu produk yang bernilai (Rose, C. & Nichols, M. J., 2002, p.58). Delapan kecerdasan yang dikemukakan Gardner adalah kecerdasan linguistic (bahasa), kecerdasan logis-matematis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan musical, kecerdasan kinestetik-tubuh, kecerdasan interpersonal (social), kecerdasan intrapersonal dan kecerdasan naturalis (Rose, C. & Nichols, M. J., 2002, p.58). Pada umumnya manusia memiliki lebih dari satu kecerdasan.
Kecerdasan intrapersonal yang saya miliki dipengaruhi oleh masa lalu saya. Saya adalah anak pertama dan memiliki satu adik perempuan. Saya pindah ke Tangerang saat berusia 2 tahun. Di Tangerang saya tidak memiliki teman. Lingkungan rumah saya rata-rata dihuni oleh pasangan yang baru menikah dan hanya saya yang masih kecil. Saya terbiasa bermain sendiri atau ditemani ibu saya. Saya banyak menghabiskan waktu menonton televisi, membaca buku cerita, dan bermain orang-orangan sendirian. Di sekolah saya juga tidak memiliki banyak teman. Saya hanya dekat dengan satu atau dua orang teman. Kebiasaan ini saya bawa sampai dewasa. Saya tidak terbiasa bermain dengan banyak orang. Saya merasa sangat nyaman ketika sendirian. Saya dapat melakukan banyak hal di dalam kesendirian.
Saya dapat merenungkan kehidupan saya, memikirkan masa depan saya, merencanakan hal-hal yang akan saya lakukan dan menulis perasaan saya dalam buku harian. Dengan adanya buku harian, saya dapat mengingat dan merefleksikan kehidupan saya. Saya jadi mengetahui kelemahan-kelemahan saya. Saya lebih berkonsentrasi menyusun dan mengerjakan paper sendirian. Saya merasa bebas ketika bekerja sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya saya memiliki kecerdasan intrapersonal.
Kecerdasan intrapersonal dalam diri saya berhubungan dengan gaya belajar saya. Saya belajar dengan membaca dan menulis secara pribadi. Saya kurang menyukai belajar dengan cara diskusi dan berkelompok seperti kecerdasan interpersonal. Jika ada kelompok yang membicarakan pelajaran saya ingin menghindar. Walaupun begitu ketika saya dipancing untuk terlibat dalam diskusi kelompok saya juga akan mengikutinya.
Sejak masuk SMP saya mulai sadar bahwa saya tidak bisa terus-menerus sendirian. Saya ingin bergaul dan memiliki teman yang banyak. Saya mulai mencari teman dan mencoba lebih banyak bergabung dalam diskusi. Saya terus mencoba untuk lebih sering bekerja dan bermain dalam kelompok. Saya mulai terbiasa untuk bergabung dalam kelompok. Saya mulai merasa nyaman ketika mendiskusikan pelajaran. Sebenarnya saya tidak terlalu sulit bergabung dengan sebuah komunitas. Teman-teman saya berpendapat saya adalah seorang interpersonal. Pendapat teman saya tidak sepenuhnya salah, namun menurut saya, sisi intrapersonal saya lebih banyak daripada interpersonal. Sampai saat ini saya tetap lebih nyaman bekerja dan belajar sendirian dan terus merefleksikan kehidupan saya. Namun saya sangat bersyukur karena saya sudah mulai dapat mengerti posisi saya. Saya dapat bekerja dengan kelompok, suka mengajari orang. Saya juga dapat belajar sendirian dan lebih konsentrasi. Jadi dalam diri saya terdapat sisi intrapersonal sekaligus interpersonal.
|
Faktor Kebijakan Internal Sangat Menpengaruhi Rabu, 09 April 08 - oleh : Idham Cholid | | Pendidikan efektif khususnya untuk sekolah negeri akan bisa berjalan dengan baik apabila sekolah diberi kewenangan secara penuh untuk mengatur sesuai dengan prinsip MBS jangan dicampuri dengan urusan politis yang justru akan memperparah sistem dalam institusi kependidikan |
efektif haruslah sejalan dengan kinerja Kamis, 10 Januari 08 - oleh : asro | | jangan hanya mengandalkan pemerintah untuk memajukan sebuah kegiatan pendidikan, pemerintah hanya berkata iya didepan kita saja tapi aplikasinya dibelakang sing ade 9gak ada). keefektifan itu akan ada apabila kita tidak hanya sekedar menunggu sesuatu itu dengan sim salabim, keaktifan patner akan mampu mengefektifkan rancangan itu sendiri, jangan hanya banyak kemauan tapi tidak ada hasilnya. |
mau yg efektifya,...ya berani beeda Rabu, 09 Januari 08 - oleh : iskandar | | Kalau masih berharap banyak atau sangat banyak ke pemerintah untuk dapat mengubah sistem pendidikan ini menjadi sistem yang efektif ya mendingan mimpi. tapi jika memberikan atau membuat sekolah yang efektif dan ada contohnya itu yg oceh...misal katanya ada sekolah alam, ada sekolah berwawasan..., ada sekolah terpadu , ada sekolah pesantren dll...itu buaru hebattt..dan efektif, minimal untuk masyarakat sekitarnya.... |
Efektif belum tentu efisien Rabu, 26 Desember 07 - oleh : Rowikarim | Pendidikan yang Efektif akan berhasil apabila semua komponen pendidikan, Guru, anak didik, metode, media, dan kurikulumnya epektif, namun untuk mewujudkan efektifitas tersebut dituntut amanah dari para pelaksana kebijakan dan penyelenggara pendidikan dengan memproposikan anggaran secara tepat, tanpa anggaran yang merata, dan anggaran selalu dikorup, tidak akan tercipta pendidikan efektif.
Anggaran pendidikan bangsa ini sudah besar untuk pendidikan, namun kesadaran akan amanah masih lemah menyebabkan pendidikan dioreintasikan efektif namun tidak efisien, penghamburan anggaran dengan ditandai seringnya perubahan ketika ganti mentri bahkan tiap tahun. bukan saya alergi perubahan, namun harus ada sekala prioritas, biar pendidikan efektif efisien dan merata keseluruh pelosok negri tercinta. wallahu'alam |
Formulir Komentar | Aturan >>
|
|
 |
|
Pencarian |
Jajak Pendapat |
Top Download |
Link Terbaru | Tampilkan situs Anda di sini.
» Tambah link baru
» Browse link
Artikel Terakhir |
|
|