| |
Mencari Software Gratis? |
Artikel Terbaru |
|
|
 |
|
Fenomena Guru dalam mengejar Teknologi Rabu, 19 Maret 08 - oleh : tjidro
Guru memang harus berada didepan membukakan pintu gerbang menuju masa depan anak didiknya.
Menghadapi perkembangan dunia teknologi informasi khususnya internet, seorang guru akan sangat ketinggalan bila sedikit pun beliau tidak mau minimal kenal dengan yang namanya internet. Sementara anak-anak pelajar saat ini untuk urusan internet sudah menjadi kebutuhan sehari-hari, artinya informasi yang mereka dapat sudah lebih up to date. Bila ini tidak diimbangi oleh SDM para Guru boleh jadi sekolah bagi siswa hanyalah rutinitas keharusan agar diakui sebagai anak pelajar dalam statusnya. Intinya, dengan internet tanpa sekolah pun mereka dapat ilmu pengetahuan, referensi, artikel dan sebagainya, dan tentu saja dibalik itu ada unsur yang berbau negatif di sana. Bila ini tidak segera di cermati oleh dunia pendidikan kita, bisa jadi Sekolahan hanya menjadi bangku-bangku kosong, bila ada siswa pun karena terpaksa, sebab sekolah sekarang bukannya biaya makin murah namun makin berat bagi orang tua siswa.
Dari sisi seorang Guru, dunia teknologi informasi merupakan dunia yang sullit dicerna karena keterbatasan kemampuan. Beliau-beliau ada sebelum perkembangan internet segila ini. Ditambah rutinitas sehari-hari dalam sekolah tentunya menjadi semakin sulit untuk sekedar berinteraksi melalui internet. Sementara realita-nya, dunia saat ini tidak bisa lepas dari internet.
Sungguh posisinya yang sangat sulit bagi seorang Guru pada dewasa ini. Permasalahan kurikulum yang masih belum final (selalu gonta-ganti), Gaji guru yang relatif masih rendah. Deraan ekonomi mengharuskan seorang Guru harus berfikir dua kali dalam mencukupi kebutuhan rumah tangganya. Rasanya tidak adil bila kita semua menuntut beliau-beliau untuk berlaku sebagaimana mestinya secara proporsional.
Akumulasi dari berbagai persoalan di lembaga pendidikan adalah wajar bila sekolahan dijadikan semacam industri. Yang mana sekolahan dijadikan ajang bisnis, tidak lain untuk mencukupi kebutuhan ekonomi. Yang pada akhirnya munculah berbagai korupsi, mark up, dan sebagainya.
Munculnya lembaga pendidikan swasta, kualitas swasta justru jauh lebih tinggi dari pada pendidikan hasil dari produk pemerintah (negeri). Ironisnya pemerintah berani mengeluarkan target minimal nilai bagi suluruh siswa. Sehingga hampir seluruh hidup siswa untuk mengejar target tersebut, pagi belajar di sekolahnya, sore harus lari ke lembaga pendidikan swasta, begitu seterusnya. Secara tidak sadar kita telah ikut menciptakan generasi nomerik tanpa menyentuh nilai-nilai luhur kemanusiaannya.
Terciptalah manusia-manusia brutalisme, terciptalah manusia tanpa budaya indonesia dan seterusnya.
Dunia Pendidikan Indonesia mulai lemah, sangat tertinggal kualitasnya dengan negara-negara tetangga. Bahkan lulusan SMA di Indonesia tidak diakui oleh beberapa negara tetangga karena memang rendahnya mutu.
Sementara kebijakan-kebijakan pendidikan indonesia selalu terkait dengan partai politik. Dunia pendidikan hanyalah isu yang dijadikan senjata partai politik dalam meraih tujuan golongannya. Tidak terpikir sedikitpun dari mereka bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan indonesia secara menyeluruh.
Sekarang sudah menjadi benang kusut yang entah dimulai dari mana untuk mengurainya. Bila kita mengharap kualitas pendidikan menjadi lebih baik, tentu sarana dan prasarana pendidikan juga harus yang memadai. Demikian pula para guru yang jelas-jelas bekerja untuk mencipta generasi bangsa kedepan, begitu sulitkah untuk mensejahterakan hidupnya mengingat kredibilitas mereka adalah bentuk kedepan indonesia.
Majulah Guru Indonesia! kirim ke teman | versi cetak
Ada 7 komentar tentang artikel ini :
jQHWfFiqcbA Jumat, 12 Maret 10 - oleh : kwtkxgbr | | p9eVE4 <a href="http://gosxldgrzuhp.com/">gosxldgrzuhp</a>, [url=http://mzhkiwxnnkuk.com/]mzhkiwxnnkuk[/url], [link=http://wvahdkmyldfz.com/]wvahdkmyldfz[/link], http://fbqabevxkodz.com/ |
Pendidikan kita Jumat, 12 Desember 08 - oleh : Andi Alfian | menciptakan generasi nomerik tanpa menyentuh nilai-nilai luhur kemanusiaannya.
Terciptalah manusia-manusia brutalisme, terciptalah manusia tanpa budaya indonesia dan seterusnya. saya sangat sependapat. Kita melihat anak-anak kita kehilangan dimensi kemanusiaan, namun pada sisi lain kita melihat siswa yang skeptis, frustasi karena tidak mampu mengejat target nilai. Sekolah kita tidak mengembangkan aspek keunggulan manusia yang mungkin dapat dikembangkan selain keunggulan akademik. Atau apakah sekolah memang diperuntukkan bagi anak-anak yang unggul secara akademik semntara yang tidak berbakat secara akademik dianggap lemah dan bodoh........ |
xIehDCAbWdOZMxDDxq Jumat, 12 September 08 - oleh : QlMlRGTaduCkBILBVTv | | G40qHC <a href="http://wpuykfogjqft.com/">wpuykfogjqft</a>, [url=http://lnkchvxngaib.com/]lnkchvxngaib[/url], [link=http://xzgkmcvghext.com/]xzgkmcvghext[/link], http://ibtlhfayelov.com/ |
oCibAPjFT Senin, 09 Juni 08 - oleh : AOGMdrWDIOMxVasNeNY | | ZsZAl7 <a href="http://somorlrppnea.com/">somorlrppnea</a>, [url=http://bvdqhwucwrgu.com/]bvdqhwucwrgu[/url], [link=http://admnvbgcurjc.com/]admnvbgcurjc[/link], http://ccczbnqolpvc.com/ |
guru tetap semangat! Rabu, 09 April 08 - oleh : ida r. | | membaca artikel anda,saya sebagai guru meniatkan dalam hati akan menjadi guru yang lebih produktif dan lebih berkualitas untuk menghasilkan anak-anak didik yang lebih oke.So, pesan saya "wahai guru, tetap semangat!!" |
Guru Juga Manusia Minggu, 06 April 08 - oleh : Kukuh Santoso | Saya sepakat dengan artikel anda yang mengatkan bahwa guru harus selalu didepan, menjadi leader,manager dan sekaligus partner bagi anak didik. namun persoalannya adalah dewasa ini perkembangan tehnologi empat kali lipat lebih cepat dari sistem pendidikan di negara kita. sementara guru tidak pernah di upgrade agar dapat mengikuti perkembangan jaman. anak-anak lebih dapat menguasai informasi teknologi hal ini disebabkan karena selain teknologi juga mennyajikan informasi-informasi positif, informasi negatifnyapun juga lebih gencar. inilah yang menjadi target anak-anak kita sebenarnya. rasa ingin tahu yang besar mampu mendorong mereka untuk menguasai teknologi ini.
jadi menurut saya, intensifitas didalam membentuk kreatifitas intelektual di sekolah perlu terus dimassifkan dengan mengubah sistem pendidikan kapitalis menjadi pendidikan yang lebih humanis. persoalan moral menjadi masalah utama disekolah, dan itu menjadi landasan agar anak dapat menghargai ilmu pengetahuan dan tehnologi.
trimaksih!! |
Guru Juga Manusia Minggu, 06 April 08 - oleh : Kukuh Santoso | Saya sepakat dengan artikel anda yang mengatkan bahwa guru harus selalu didepan, menjadi leader,manager dan sekaligus partner bagi anak didik. namun persoalannya adalah dewasa ini perkembangan tehnologi empat kali lipat lebih cepat dari sistem pendidikan di negara kita. sementara guru tidak pernah di upgrade agar dapat mengikuti perkembangan jaman. anak-anak lebih dapat menguasai informasi teknologi hal ini disebabkan karena selain teknologi juga mennyajikan informasi-informasi positif, informasi negatifnyapun juga lebih gencar. inilah yang menjadi target anak-anak kita sebenarnya. rasa ingin tahu yang besar mampu mendorong mereka untuk menguasai teknologi ini.
jadi menurut saya, intensifitas didalam membentuk kreatifitas intelektual di sekolah perlu terus dimassifkan dengan mengubah sistem pendidikan kapitalis menjadi pendidikan yang lebih humanis. persoalan moral menjadi masalah utama disekolah, dan itu menjadi landasan agar anak dapat menghargai ilmu pengetahuan dan tehnologi.
trimaksih!! |
Formulir Komentar | Aturan >>
|
|
 |
|
Pencarian |
Jajak Pendapat |
Top Download |
Link Terbaru | Tampilkan situs Anda di sini.
» Tambah link baru
» Browse link
Artikel Terakhir |
|
|