Peningkatan Mutu Pendidikan

Salah satu isu penting dalam penyelenggaraaan pendidikan di negara kita saat ini adalah peningkatan mutu pendidikan, namun yang terjadi justru kemerosotan mutu pendidikan dasar, menengah, maupun tingkat pendidikan tinggi. Hal ini berlangsung akibat penyelenggaraan pendidikan yang lebih menitikberatkan pada aspek kuantitas dan kurang dibarengi dengan aspek kualitasnya. Peningkaran kualitas pendidikan ditentukan oleh peningkatan proses belajar mengajar. Dengan adanya peningkatan proses belajar mengajar dapat meningkat pula kualitas lulusannya. Peningkatan kualitas proses pembelajaran ini akan sangat tergantung pada pengelolaan sekolah dan pengajaran/pendekatan yang diterapkan guru.
Berdasarkan kajian teori, kepemimpinan kepala sekolah terbukti mempengaruhi implementasi dan pemeliharaan perubahan dan berkolerasi dengan hasil belajar murid. Kualitas lulusan pendidikan dipengeruhi oleh kualitas manajemen sekolah atau manajemen pengelolaan pendidikan. Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh fasilitas pendukung, proses belajar mengajar, dan pengajaran. Kemampuan sosial ekonomi orang tua siswa yang tinggi akan berkorelasi dengan penyediaan fasilitas belajarnya, yang akhirnya dapat meningkatkan motivasi belajar. Dalam proses pembelajaran, motivasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar.
Mutu pendidikan tidak dipengaruhi oleh faktor tunggal, ada sejumlah variabel yang dianggap saling berhubungan/ mempengaruhi. Hal ini perlu sebuah kajian yang akan mengidentifikasi secara empirik hubungan langsung atau tidak langsung dalam suatu rangkaian dari sistem pendidikan.

Referensi:
Idris, Jamaludin. 2005. Analisis Kritis Mutu Pendidikan. Suluh Press, Yogyakarta.

One thought on “Peningkatan Mutu Pendidikan

  1. Hu Wymf

    Kualitas proses belajar-mengajar itu (1) menentukan kualitas lulusan dan (2) ditentukan oleh bagaimana sekolah dikelola dan bagaimana guru mengajar. Kedua hal tersebut sangat dipengaruhi oleh motivasi. Sayang, banyak orang tak menyadari kalau motivasi tersebut terbentuk terutama oleh kebijakan penguasa, dalam hal ini Pemerintah c/q. Kementerian Pendidikan. Kalau penglihatan saya di lapangan, kekeliruan kebijakan ini telah berlangsung sejak tahun 1970-an hingga sekarang. Dengan kebijakan begini, guru mengutamakan administrasi dan titel (lalai mengajar), murid mengejar naik kelas dan lulus (lalai menguasai iptek/imtaq), dan akhirnya pendidikan semakin jauh dari keilmuan, semakin mendekati pembodohan. (Sayang tempat nulisnya sedikit sehingga kurang halus bahasanya).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

*
= 5 + 8